Catatan Perjalanan: Mercusuar Sembilangan

Penulis: papatita
Tanggal: 2011-04-12 17:16:34


Short Link

 

Surabaya, 12 Februari 2011.

Dalam mengisi kekosongan kami dari LM Jatim akhirnya jalan jalan ke madura, tujuannya cuma satu yaitu Mecusuar ZM Willem III 1879 di pantai Sembilangan desa Tanjung Piring atau lebih terkenal dengan sebutan Mercusuar Sembilangan.

 
Untuk menyegarkan ingatan, Mercusuar adalah sebuah bangunan menara dengan sumber cahaya di puncaknya untuk membantu navigasi kapal laut. Sumber cahaya yang digunakan beragam mulai dari lampu sampai lensa dan (pada zaman dahulu) api.
 
Perjalanan dimulai dengan menyeberang menggunakan kapal feri dari pelabuhan Tanjung Perak menuju Madura, dari pelabuhan Kamal perjalanan diteruskan sekitar 14km menuju kota Bangkalan, lalu dari alun-alun bangkalan belok kearah barat melewati makam kyai Kholil dan ikuti terus jalan desa hingga kearah pantai/mercusuar, dari Bangkalan ini perjalanan kira-kira 30menit. Sampai dilokasi terkesan suasana masa lalu, tanaman yang cukup rindang dan besar, ada warung sederhana di depan terbuat dari bambu, lingkungannya sudah dipagari tembok mengelilingi pusat menara.
 
 
Mercusuar ini memiliki ketinggian lampu atau focal plane setinggi 53 meter, dengan 1 buah lampu yang berpedar setiap 10 detik dengan jangkauan cahaya sejauh 50 meter. Menara berbentuk poligonal dengan 12 sisi yang terbuat dari plat besi baja dengan ketebalan dan kandungan timah yang sungguh menakjubkan. Menara ini memiliki 16 ruang lantai dan 1 lantai khusus ruang lentera. Setiap lantai terhubung dengan tangga melingkar dan masing – masing lantai terdapat dua jendela. Menara memiliki kolom penyangga yang juga terbuat dari besi baja dan tembus terhubung sampai lantai 16 dimana terdapat panel pengoperasian lampu. 
 
Dahulu kolom penyangga ini digunakan sebagai tempat mengerek karbit atau minyak tanah ketika masih belum ditemukannya lampu pijar. Sekarang sudah tidak lagi digunakan karena telah memakai kabel listrik sehingga penjaga mercu suar cukup menyalakan lampu dari lantai bawah saja. Setiap bagian pelat baja terdapat penomeran secara horizontal dengan 4 rangkaian pelat setiap lantainya.
 
Walau cuma 16 lantai namun karena terus naik cukup membuat lelah, namun di tiap lantai kita bisa manfaatkan istirahat dan melihat suasana diluar melalui jendela kecil rangka besi yang masih asli walaupun ada beberapa yang sudah berkarat, satu kepuasan tersendiri apabila sudah sampai di puncak, ngaso beberapa saat dan bincang-bincang dengan yang lain sebelum akhirnya turun kembali.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


   Others: